IBUKU PAHLAWANKU

 




Mentari belum lagi menampakan sinarnya,tetapi suara deru kecil dari dapurku sudah membangunkan aku,di bawah dapurku tampak sebuah kompor kecil yang apinya tak pernah padam.ibuku duduk di atas kursi kecil, tanganya tampak membawa sayuran yang akan di masak untuk sarapan pagiku . Ibuku adalah wanita Tangguh. Sejak ayah meninggal dua tahun lalu,ibuku menggatikan peran menjadi tulang punggung keluarga,tanpa mengeluh,ia merawat aku dan adiku seoarang diri.

 

‘Adik,sudah bangun?mandi sana,nanti kesiangan sekolahnya,ucap ibuku kepada adiku setiap hari.

 

Suatu sore, adiku melihat tangan ibu yang kasar dan kapalan saat menyerahkan uang saku.hati adiku sangat tersayat ,ia tahu betapa berat perjuangan ibu mencari setiap rupiah di bawah terik matahari. Adiku memeluk ibu erat erat ,’’ibu capek ya?maafkan aku kalau sering merepotkan.Ibuku mengelus rambut adiku dengan lembut’’bagi ibu,melihat kalian terseyum dan sekolah dengan benar adalah tenaga yang tidak ada habisnya’’.

 

Bagi aku,pahlawan bukanlah sosok yang mengenakan jubah atau memegang pedang di medan perang.Pahlawan sejati dalam hidupnya adalah ibu,sosok berhati baja yang bejuang setiap hari demi masa depan anak-anaknya.

 

 

 

By: M.Makinun Kafi.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.