Proyek Drainase 88 Miliar Purwodadi Minim Sosialisasi, Warga Jadi Korban


Purwodadi, kristalmedia.net -
Persaudaraan Lintas Iman Grobogan mengkritik keras proses pembangunan saluran drainase dan trotoar di Kota Purwodadi. Pemerintah dinilai tidak melakukan komunikasi dan sosialisasi yang memadai kepada warga terdampak.


Kritik tersebut mengemuka dalam pertemuan Persaudaraan Lintas Iman yang digelar pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB di Pastori Kartini, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purwodadi.


Warga Tendean Merasa Ditinggalkan


Ki Atma, warga Jalan Tendean, salah satu titik proyek, mengaku tidak ada sosialisasi dan perilaku kooperatif dari kontraktor maupun pemerintah daerah sejak awal pembangunan.


"Kami tidak merasakan ada sosialisasi. Dampaknya langsung ke warga: debu tebal, krisis air bersih, dan cuaca lingkungan yang semakin panas," ungkap Ki Atma.


Ia menambahkan, saat hujan turun, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur hingga mengakibatkan banyak pengendara motor berjatuhan.


Kawasan Jalan Tendean sendiri merupakan kawasan vital. Di sana terdapat fasilitas umum seperti gereja, sekolah Kristen SD-SMP, rumah sakit, Kantor Bawaslu, Kantor KONI, SMA, dan Kantor PMI.


Contoh nyata minimnya komunikasi adalah di Rumah Sakit Panti Rahayu Yakkum. Pihak rumah sakit yang diwakili Yoyok, terpaksa mengeluarkan uang pribadi yayasan untuk memperkuat trotoar.


"Karena tidak ada komunikasi saat perencanaan, ada masalah spek kekuatan beton trotoar. Truk pengirim barang dan oksigen ke rumah sakit tidak bisa lewat. Akhirnya kami perkuat sendiri dengan biaya yayasan," jelas Yoyok.


Ki Atma menegaskan, warga sebenarnya tidak ingin berdemonstrasi.


"Warga ingin pendapat dan masukannya dipertimbangkan. Jangan biarkan pemerintah memonopoli paradigma pembangunan sehingga masyarakat yang jadi korbannya," tegasnya.


Diragukan Atasi Banjir, Justru Picu Dampak Ekonomi


Bunda Rita, Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI), menyangsikan pembangunan trotoar dan drainase tersebut mampu menangani banjir.


"Masalah banjir Purwodadi ada di hulu, hutan yang gundul membawa sedimentasi yang banyak ketika hujan. Saya takut jika pembangunan drainase ini malah membuat air lebih cepat masuk ke Kota Purwodadi," katanya.


Ia juga menyoroti dampak lingkungan. Suhu panas yang mencapai 40 derajat dirasakan warga karena semua tanaman di pinggir jalan ditebangi.


"Dampaknya debu, panas. Banyak warga tidak bisa jualan, tidak bisa menyicil angsuran. Banyak pekerja UMKM yang dirumahkan, tidak bekerja," ungkapnya, sambil menceritakan keluhan jemaatnya yang rumah dan usahanya terkena dampak langsung proyek.


Dinilai Tidak Layak Kelola Proyek 88 Miliar


Wahyu Dwi Pranata dari kelompok Supaya Grobogan Maju (SGM) menyimpulkan bahwa pembangunan ini menunjukkan tidak adanya perencanaan kota yang memadai.


"Terlihat jelas Kabupaten Grobogan tidak mempunyai perencanaan pembangunan kota yang memadai. Terlihat kesemrawutan di mana-mana. Dari lalu lintas truk, mobil, motor dan jalanan berdebu. Alat berat dan timbunan material yang mengganggu. Itu memperlihatkan inkompeten kepemimpinan," ujarnya.


"Koordinasi antar dinas yang buruk. Pemerintah belum layak untuk memanajemen proyek sebesar 88 Miliar," pungkas Wahyu.


Sumber: Rilis Resmi Persaudaraan Lintas Iman Grobogan


Narhubung:
Wahyu – 085740208904
Pendeta Galih – 085900226295

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.