Habib Ali Al Habsyi, Simtudduror dan Haul Solo
Sampai hari ini masih terjadi polemik tentang Nasab Ba'alawi di kalangan masyarakat. Banyak argumen bertebaran di media sosial antara kubu pro dan kontra, bagaikan ombak laut yang terus pasang surut menuai kontroversi. Di sisi lain, banyak habaib yang ramah dan santun, menyebarkan dakwah Islam, membawa kedamian di hati umat, menuntun ke jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ada satu Habib yang terkenal dengan karya munumentalnya
Kitab Maulid Simtudduror. Pecinta sholawat dan Majlis Maulid Maulid Nabi pasti
tak asing mendengar syair Yaa Habibana ‘Ali.. Syai’ lillah… Syai’ lillah.
Siapa lagi kalau bukan Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi.
Sejarah Penulisan Maulid
Simtudduror
Penulisan Maulid Simturduror berbeda dengan penulisan buku pada
umumnya yang ditulis oleh penulisnya langsung. Kitab ini ditulis oleh putra
Habib Ali, yang mana syairnya langsung dilantunkan oleh seseorang yang sangat
merindukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Habib Ali bin
Muhammad Al Habsyi. Syair-syair yang terucap tanpa memikirkan diksi/urutan pada
fashal-fashal. Jadi beliau mengarang sesuai dengan kata hati yang sangat
merindukan yang dicintainya.
Kitab Simtudduror selesai dengan tiga kali pertemuan (yaqodhoh)
saja. Kemudian kitab tersebut dibawa ke Madinah dan dibacakan di depan makam Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh muridnya yang bernama Habib Muhammad
bin Idrus Al Habsyi. Habib Idrus adalah pembawa Kitab Maulid Simtudduror ke Nusantara
ini.
Dilansir dari jateng.nu.or.id,, Habib Ali mengarang Kitab
Maulid ini pada usianya yang ke-68 tahun. Berkat karyanya ini, Habib Ali Al
Habsyi dijuluki Sahibul Maulid Simtuhudduror. Kitab ini berisi syair-syair
tentang kisah perjalanan hidup dan pujian kepada Baginda Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam dengan bahasa yang indah dan penuh makna
Biografi Habib Ali bin
Muhammad Al Habsyi
Dilansir dari jateng.nu.or.id, Habib Ali bin Muhammad
Al-Habsyi lahir pada tanggal 24 Syawal 1259 Hijriah atau pada tahun 1839 Masehi
di Desa Qosam, Hadhramaut, Yaman. Habib Ali terlahir dari pasangan Habib
Muhammad bin Husein Al-Habsyi dan Habibah Alawiyah binti Husein bin Ahmad
Al-Hadi Al-Jufri.
Nasab mulia Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi tidak perlu
diragukan lagi. Sebab, dalam Manaqib Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi,
nasabnya tersambung melalui jalur nasabnya Ali Zainal Abidin bin Husein bin
Fathimah az-Zahra binti Muhammad bin Abdillah.
Habib Ali pada masa kecilnya merupakan seorang yang ahli ilmu
dan memiliki akhlak yang sangat mulia, beliau sangat haus akan ilmu sehingga
menguasai ilmu baik dhohir maupun batin. Beliau sangat senang dengan para
salafus sholih, membaca siroh- sirohnya. Dan beliau juga sangat hormat &
senang sekali dengan kedatangan tamu bahkan dikisahkan ada sekumpulan ulama
yang datang ke rumah Habib Ali kemudian ia menjamunya meskipun pada saat itu
makanan yang ada di rumahnya terbatas, tiba-tiba sang ibunda keluar dan meminta
persaksian bahwa ibunya sangat ridho terhadap anaknya (Habib Ali) ia tidak
pernah menyelisihi ku dan selalu taat tunduk kepadaku.
Waktu demi waktu saat Habib Ali berumur 17 tahun, beliau
pergi ke Makkah untuk menimba ilmu di sana yang dididik oleh dua guru sekaligus,
salah satunya Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan yang mana ini menjadi tersambungnya
sanad kepada ulama Nusantara yang pada saat itu belajar di Makkah.
Habib Ali juga membangun masjid Riyadh di kota Shewun (Hadramaut) yang sama halnya di Indonesia tepatnya di kota Solo, yang dibangun bersama Habib Alwi bin Ali bin Muhammad Al Habsyi, salah satu putra beliau yang menjadi pelopor adanya acara Haul Solo dan melanjutkan estafet dakwah yang sudah dilakukan oleh ayahnya. Makam Habib Alwi bertempat di sebelah masjid yang dibangunnya (pojok kiri).
Haul Habib Ali di Solo
Haul merupakan peringatan bagi seseorang yang sudah
meninggal genap satu tahun, tujuan dari haul sendiri untuk mengetahui kebaikan
& meneladani shohibul haul semasa hidupnya. Dilansir dari laman Pondok Sidogiri,
Nama “Haul Solo” sendiri tidak muncul sejak awal. Dalam salah satu ceramah,
Habib Muhammad bin Husein Al Habsyi menceritakan bahwa pada mulanya haul ini
belum memiliki nama khusus. Karena diselenggarakan di Kota Solo, para jamaah
dari luar daerah mulai menyebutnya dengan “Haul Solo” agar lebih mudah dikenal
dan diingat.
Pemerintah Kota Solo merespons positif penyebutan ini.
Bahkan, Haul Solo kini telah menjadi agenda tahunan resmi dalam kalender Pemkot
Solo, dan didukung penuh pelaksanaannya. Kini, Haul Solo bukan hanya menjadi
ajang tahunan untuk mengenang sosok Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, tetapi
juga menjadi simbol cinta umat kepada ulama dan warisan spiritualnya. Ribuan
jamaah dari seluruh penjuru Nusantara, bahkan dari luar negeri, datang setiap
tahun demi merasakan aura keberkahan dan spiritualitas yang terpancar dari
majelis ini.
Hal ini tak terlepas dari Habib Anies bin Alwi Al Habsyi (makam
paling kanan) yang merupakan orang yang sangat menjaga kelestarian kegiatan-kegiatan
yang ada di Masjid Riyadh. Mulai dari rauhah, pembacaan maulid dan kegiatan
lainnya yang sudah dipasrahkan oleh ayahnya (Habib Alwi Al Habsyi). []
Penulis: Muhammad Jiddan Zulfikar Akbar


Tidak ada komentar: