Belajar dari Gus Dur: Pemimpin dari Rakyat, oleh Rakyat, untuk Rakyat



Purwodadi, kristalmedia.net - Komunitas Gusdurian Grobogan menyelenggarakan acara Haul ke-16 Gus Dur di Candi Joglosemar, Purwodadi, dengan tema "Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat". Acara ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Rita Dwi Lestari, Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI), dan Kyai Zainal Arifin.


Rita Dwi Lestari menyatakan bahwa saat ini, rakyat dipimpin oleh elit yang tidak peka dengan masalah yang dihadapi masyarakat. Mereka lahir dengan banyak kelebihan dan kemudahan, sehingga tidak pernah merasakan kesulitan seperti rakyat biasa.


"Berbeda dengan Gus Dur, yang memimpin dengan memanusiakan masyarakat Papua dan Tionghoa, serta menghadirkan keadilan bagi mereka yang dianggap kecil," ungkapnya.


Kyai Zainal Arifin menambahkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk merusak, tetapi manusia yang berkesadaran dapat melebihi malaikat. "Manusia yang baik memilih untuk berbuat baik meskipun ada kesempatan untuk berperilaku jahat," jelas Kyai Zainal


Dalam diskusi, Wahyu Dwi Pranata mengungkapkan bahwa nilai keteladanan Gus Dur masih sangat layak untuk dikenang dan diteladani anak muda Grobogan.


"Gus Dur adalah seorang aktivis sejak muda, pembaca buku yang rajin, dan penulis opini yang produktif. Ia tidak takut kepemimpinan orde baru dan tetap menjadi rakyat biasa meskipun menjadi Presiden," ungkap founder Supaya Grobogan Maju tersebut.


Wahyu menambahkan, Gus Dur juga dikenal karena kebijakan non-populisnya, seperti tidak menyediakan makan siang untuk wartawan dan membubarkan DPR. Ia mengatakan bahwa mereka seperti taman kanak-kanak. Gus Dur juga membubarkan kementrian Sosial, yang akhirnya membuatnya diturunkan sebelum jabatannya berakhir.


Penting untuk diperhatikan oleh para pemimpin dan calon pemimpin sekarang, bahwa kekuasaan yang dalam genggaman adalah sebuah amanah. Pemimpin harus bisa menggunakan amanah tersebut untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan menegakkan keadilan. Gus Dur memberikan contoh dan keteladanan, bahwa nilai-nilai universal seperti kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan harus menjadi dasar untuk membuat dan memutuskan kebijakan, sehingga dapat memberikan dampak yang nyata bagi rakyat tanpa memandang kelompok, suku, ras dan agama. []


Kontributor: Wahyu Dwi Pranata/Supaya Grobogan Maju

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.